![]() |
| Sumber Gambar: Dokter.id |
Muin. Nama yang simpel. Mungkin karena terlalu simpel,
pemiliknya menambahi embel-embel yang takkan ditemukan di ijazahnya. Dalam
beberapa tulisannya yang dimuat media, ia menambahi nama tersebut dengan
“Emye”. Sodara bisa membacanya menjadi Muin MY.
Sampai saat ini saya tidak tahu apa kepanjangan dari “Emye” atau
“MY” tersebut. Dan, saya tak punya keinginan membuang-buang waktu mengurus nama
orang lain. Mengurus anak sendiri sudah rumit, Sodara-Sodara. Jadi, biarkan ia
menjadi mesteri gunung merapi.
Dan justru letak keunikan Muin ini bukan pada namanya,
melaikan pada sikap dan kelakuannya terhadap saya.
Kami saling berkenalan ketika dulu masih sama-sama mondok di
PP. Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Ia di daerah Latee dan saya di Lubangsa
Selatan. Kami bertemu karena kesamaan penyakit, sama-sama mimisan. Bukan.
Bukan. Kami sama-sama suka menulis. Beberapa karyanya sudah pernah dimuat di
Infokom, tabloid pelat merah milik Pemkab Sumenep. Sementara saya masih
tertatih-tatih menyusun kata. Jadi, dia lebih senior dari saya. Pun juga
usianya.
Kami biasanya menghabiskan waktu di perpustakaan PPA. Lubangsa
Selatan. Ia memang pelahap buku, sehingga perpustakaan di tempat saya selalu ia
kunjungi. Kebetulan, pada waktu itu perpustakaan di tempat saya memiliki
koleksi buku cukup banyak ketimbang perpustakaan-perpustakaan di daerah lain di
PP. Annuqayah.
Tiap kali Muin datang ke perpustakaan, rutinitas yang sering
dilakukan oleh Nurul, teman saya, adalah mengajaknya berdiskusi. Tapi jangan
maknai diskusi di sini sebagai yang serius-serius serupa di televisi. Jauh
sekali, sejauh langit dengan comberan. Motif Nurul mengajaknya bicara hanya
ingin melihat hujan ludah jatuh dari mulutnya. Ini sungguhan dan saya
menyaksikannya sendiri. Saat Muin bicara, ludahnya selalu mendesak untuk
keluar. Dan ia tak berdaya menahannya. Ludah-ludah itu pun melesat keluar dan
jatuh di lantai, kadang di sarung Nurul.
Saat awal-awal berhenti mondok, Muin masih sering ke
perpustakaan Lubangsa Selatan. Hingga beberapa tahun kemudian dia menghilang
dan kami tak saling berkomunikasi. Baru mulai lagi saat saya juga berhenti
mondok.
Dia sering mengirimi saya pesan singkat. Dari pesan-pesan
yang dikirimnya, saya jadi tahu bahwa penyakitnya semakin parah. Jika dulu dia hanya
mengidap keluguan, kini ia mengidap penyakit baru yang entah apa namanya. Saya
juga yakin dunia kedokteran belum punya nama untuk penyakit yang satu ini.
Dia suka sekali meminta nomer telepon orang lain kepada
saya. Bunyi SMS-nya biasanya seperti ini, “Bapak kenal sama Anu?” Ia memanggil
saya Bapak, padahal saya masih 18-.
Saya menanggapi pesannya dengan jawaban yang standar dan sok
dingin. Jika kenal, saya jawab kenal, kalau tidak, saya jawab tidak. Jika saya
menjawab kenal, dia akan mengirim lagi pesan singkat yang isinya meminta nomer telepon
orang tersebut.
Bila itu terjadi hanya satu kali mungkin tak jadi persoalan.
Masalahnya, dia meminta nomer telepon orang lain ke saya mungkin sudah puluhan
kali. Dan sebagian besar orang yang ditanyakannya tidak saya kenal.
Selain meminta nomer telepon orang, kegemaran Muin lainnya
adalah meminta pinjaman uang. Ia biasanya mengirim pesan singkat seperti ini,
“Bapak, saya mau pinjam uang 20rb.” Mendapati SMS seperti ini saya merasa geli
sendiri. Dia mau pinjam uang 20rb kepada orang yang jarak rumahnya belasan
kilometer. Rumah dia di Lenteng, sementara rumah saya di Jaddung, Pragaan. Kalau
dibeli bensin untuk pulang pergi saat meminjam dan mengembalikannya, uang tersebut
bisa habis. Belum lagi resiko ban bocor dan kena begal. Tapi untuk yang
terakhir saya kira tak akan terjadi. Tak ada begal yang berani kepadanya karena
ia punya jurus: senyum halilintar.
Dalam pesan singkatnya yang lain, ia juga pernah bertanya
tentang biodata anak saya. Pesan tersebut tak saya tanggapi karena dia bukan
pejabat pemerintah yang mengurus akta kelahiran. Terlebih lagi akta kelahiran
anak saya sudah selesai dibuat.
Namun, di antara pesan singkat-pesan singkatnya yang kadang
menjengkelkan itu, ada satu yang membuat perhatian saya dan istri tersita. Pada
tanggal 2 Januari 2016 lalu, ia mengirimi saya pesan yang bunyinya begini,
“Selamat ulang tahun bapak. Semoga panjang umur dan berkah.”
Saat membaca pesan tersebut, istri bertanya, “Dari mana dia
tahu Mas ulang tahun hari ini?”
“Saya tidak tahu dan sepertinya dia tidak punya akun
Facebook. Saya tak berteman dengan dia. Saya juga tak pernah memberitahunya
tanggal lahir saya,” jawab saya.
Entah dari mana dia tahu saya ulang tahun hari itu. Kalau
dia punya akun media sosial, tentu saya dan istri tak heran. Karena
pemberitahuan soal ulang tahun sudah tersedia secara otomatis.
NB: Muin bukan nama
sebenarnya. Sengaja disamarkan agar tidak terjadi pertumpahan darah.
Komentar
Tinggalkan Komentar