Saat di pondok dulu, saya kadang diminta oleh teman-teman untuk mengedit tulisan-tulisan mereka, baik itu cerpen, esai, ataupun ilmiah populer. Entah apa alasan mereka melakukan itu, mengingat saya sebenarnya tidaklah mahir dalam dunia yang satu ini. Bahkan banyak senior saya yang lebih jago, yang tulisan-tulisannya pernah dimuat di media nasional atau memenangi berbagai lomba. Boleh jadi karena saya terlihat sering menganggur. Jadi, mereka tidak sungkan untuk meminta saya mengedit tulisannya. Atau, sebenarnya saya adalah pelarian terakhir. Entahlah.
Beruntung pada tahun-tahun sebelumnya saya mendapatkan sedikit pengalaman dari bekerja di sejumlah media pondok, mulai dari majalah dinding sampai majalah cetak. Beberapa di antaranya saya "terpaksa" mengisi pos editor karena tidak ada teman yang mau. Ingat, pekerjaan mengedit itu sangat membosankan, apalagi kalau berjumpa dengan tulisan-tulisan yang amburadul. Jadi, wajar jika banyak teman saya yang menolaknya karena terkadang memang lebih gampang menulis sendiri ketimbang memperbaiki tulisan orang lain.
Dari pengalaman tersebut, alhamdulillah saya mendapat pengetahuan-pengetahuan baru tentang penyuntingan naskah (walaupun sekarang sudah banyak yang lupa setelah lama tidak bersentuhan dengan dunia tulis-menulis). Pengetahuan-pengetahuan itu terpaksa saya pelajari karena tuntutan pekerjaan. Jadi, ketika saya mengalami masalah, saya harus mencari pemecahannya sendiri. Dari situlah saya mendapatkan ilmu baru.
Saya sendiri sebenarnya merasa tidak cocok sama sekali masuk ke dalam dunia editor karena pekerjaan ini menuntut kesabaran, ketelatenan, dan ketelitian. Dalam diri saya, ketiga-tiganya bernilai nol. Karena itu, kelak ketika saya berhenti mondok, saya tidak pernah bercita-cita menjadi editor profesional.
Karena tidak punya sifat sabar dan telaten, jika bertemu tulisan-tulisan yang menurut saya kurang pas, hasrat untuk membabat habis tulisan tersebut segera muncul. Kalau editor yang telaten, etikanya, tulisan yang kurang bagus dikirimkan kembali ke penulisnya dengan catatan-catatan perbaikan. Kalau saya, tidak begitu, lebih memilih jalan pintas dengan membabat bagian tulisan yang jelek, lalu menambah kalimat-kalimat baru yang dibutuhkan. Alhasil, ketika dibaca kembali oleh penulisnya, tulisan tersebut terlihat sebagai bukan tulisannya.
Terkait hal ini, saya punya pengalaman unik.
Suatu kali, seorang teman datang kepada saya dengan sebuah cerpen. Saya diminta mengoreksinya. Katanya, cerpen tersebut akan diikutkan lomba di sekolahnya. Saya lupa acara apa. Mungkin Class Meeting atau Haflatul Imtihan. Yang jelas, pesertanya adalah para siswa dari semua jenjang. Ia akan ikut bersaing bersama mereka.
Karena sedang tidak suntuk, saya mengiyakan permintaannya. Keesokan harinya, mulailah saya membaca-baca cerpen tersebut. Usai membaca, saya berkesimpulan bahwa teman saya yang satu ini lebih besar nyalinya ketimbang bobot tulisannya. Kalian sudah pasti tahu apa yang segera muncul di kepala saya. Ya, betul, saya akan mengacak-acaknya.
Saya mulai mengedit cerpen tersebut. Kalimat-kalimat yang tidak jelas, yang ternyata banyak sekali, saya hapus, saya ganti dengan kalimat-kalimat yang lebih masuk akal. Tanda bacanya juga saya perbaiki sesuai dengan pengetahuan saya waktu itu. Dan yang menakjubkan, saya juga harus mengganti konflik cerpen tersebut agar tidak terlalu datar. Saya pikir, percuma kalimat-kalimatnya masuk akal, tapi ceritanya tidak.
Setelah selesai mengedit, saya serahkan cerpen tersebut kepada si kawan. Saya berharap dia protes karena sudah saya acak-acak, yang membuatnya seperti bukan karya dia. Tapi, dia terlihat malah tersenyum bangga dan makin antusias untuk mengikuti kompetisi ini.
Sekitar setengah bulan setelahnya, dia datang lagi dengan sebuah kabar.
"Bang, alhamdulilah menang. Cerpen saya juara satu," katanya dengan muka berseri-seri.
Saya kaget sekaligus merasa bersalah mendengar kabar tersebut. Kaget karena tidak punya ekspektasi sejauh itu, tidak punya pikiran bakal menang. Dan merasa bersalah karena ini menyalahi aturan kompetisi. Jelas, cerpen tersebut sudah bukan murni milik dia karena ada campur tangan saya yang porsinya cukup banyak. Jika panitia tahu hal ini, sudah pasti akan didiskualifikasi.
Tapi, tentu kekagetan itu tidak etis diperlihatkan kepada teman yang sedang berbahagia. Saya pun pura-pura tersenyum bahagia.
Yang bikin agak jengkel adalah, setelah menjadi juara, dia petantang-petenteng berlagak cerpenis muda yang sedang naik daun. Seakan-akan Seno Gumira muda baru lahir. Padahal baru menang di tingkat sekolah saja. Saya yang melihatnya cuma geleng-geleng kepala sambil tersenyum kecut. Ingin rasanya rahasia ini saya bongkar biar dia kapok, tapi nanti saya kena getahnya juga. Ya, sudah, saya simpan saja dosa ini.
Komentar
Tinggalkan Komentar