Gibran melenggang. Lolos menjadi
cawapres Prabowo. Sebelumnya, publik marah. Keputusan
Mahkamah Konstitusi dinilai cacat moral. Kritik datang dari berbagai penjuru.
Butet Kartaredjasa berkirim surat ke Jokowi. Ia menyayangkan peristiwa itu
terjadi. Sangat kentara bahwa keputusan tersebut untuk memuluskan pencalonan
Gibran. Walau bisa dibantah, tapi sulit. Publik sudah bisa menebak.
Kritik juga datang dari buzzer
Jokowi. Dulu mereka menyusu ke pemerintah. Kini berbalik. Itu karena mereka
kini sudah berseberangan. Jokowi ke Prabowo, para buzzer kebanyakan ke Ganjar.
Polemik pencalonan Gibran jadi makanan empuk. Mereka menemukan tumpukan
amunisi. Untuk menghajar Jokowi. Marwah Jokowi babak belur.
Masyarakat umum pun berteriak.
Mahkamah Keluarga, kata mereka. Sumpah serapah dilayangkan. "Dinasti
politik" menjadi kosakata yang mudah dijumpai. Politik instan keluarga
Jokowi sangat nampak. "Mi instan saja butuh dimasak," sindir mereka.
Kisruh pencalonan Gibran menggeret
sentimen negatif. Konon, ia menggerus elektabilitas Prabowo. 10 persen. Sebuah
angka yang besar. Tapi, mengapa Prabowo, Jokowi, dan petinggi partai koalisi
begitu berani? Entahlah. Mungkin mereka sedang menyiapkan sebuah skenario.
"Masih banyak drama sinetron menjelang Pilpres 2024," kata Jokowi ke
petinggi PSI suatu ketika.
****
Ingat, masyarakat Indonesia itu
pelupa. Permisif. Peristiwa-peristiwa besar segera berlalu. Peristiwa baru
segera mengisi keriuhan. Orang-orang menjadi lupa peristiwa sebelumnya.
Masih ingat tragedi Kanjuruhan? Ya,
tragedi sepakbola nomor dua paling mengerikan di dunia. 135 nyawa melayang.
Bagaimana kelanjutan kasusnya? Sepi. Publik sepakbola yang dulu teriak-teriak,
kini diam. Suporter yang harusnya punya kekuatan, kini seperti bebek. Tak ada
daya. Mereka kini kembali ke tribun dengan beberapa bentrokan lagi.
Saya kira peristiwa MK ini kelak
akan bernasib sama. Setidaknya tidak akan membesar. Sama seperti saat Ganjar
menolak Israel di Piala Dunia U20. Masyarakat sepakbola marah. Atas statemen
tersebut, saat itu, suara Ganjar tergerus. Tapi, kini suaranya menguat kembali.
Jadi, kehebohan ini hanyalah
riak-riak sesaat. Ombak-ombak kecil yang segera terhempas. Kita tunggu ombak
apa lagi yang akan menghempaskan ombak Mahkamah Konstitusi ini.
Lenteng, 25 Oktober 2023
Komentar
Tinggalkan Komentar