Mereka Juga akan Lupa Kok!
Senggang

Mereka Juga akan Lupa Kok!

Fahrur Rozi Fahrur Rozi ·
Gibran melenggang. Lolos menjadi cawapres Prabowo. 

Sebelumnya, publik marah. Keputusan Mahkamah Konstitusi dinilai cacat moral. Kritik datang dari berbagai penjuru. Butet Kartaredjasa berkirim surat ke Jokowi. Ia menyayangkan peristiwa itu terjadi. Sangat kentara bahwa keputusan tersebut untuk memuluskan pencalonan Gibran. Walau bisa dibantah, tapi sulit. Publik sudah bisa menebak. 

Kritik juga  datang dari buzzer Jokowi. Dulu mereka menyusu ke pemerintah. Kini berbalik. Itu karena mereka kini sudah berseberangan. Jokowi ke Prabowo, para buzzer kebanyakan ke Ganjar. Polemik pencalonan Gibran jadi makanan empuk. Mereka menemukan tumpukan amunisi. Untuk menghajar Jokowi. Marwah Jokowi babak belur. 

Masyarakat umum pun berteriak. Mahkamah Keluarga, kata mereka. Sumpah serapah dilayangkan. "Dinasti politik" menjadi kosakata yang mudah dijumpai. Politik instan keluarga Jokowi sangat nampak. "Mi instan saja butuh dimasak," sindir mereka. 

Kisruh pencalonan Gibran menggeret sentimen negatif. Konon, ia menggerus elektabilitas Prabowo. 10 persen. Sebuah angka yang besar. Tapi, mengapa Prabowo, Jokowi, dan petinggi partai koalisi begitu berani? Entahlah. Mungkin mereka sedang menyiapkan sebuah skenario. "Masih banyak drama sinetron menjelang Pilpres 2024," kata Jokowi ke petinggi PSI suatu ketika. 

****

Ingat, masyarakat Indonesia itu pelupa. Permisif. Peristiwa-peristiwa besar segera berlalu. Peristiwa baru segera mengisi keriuhan. Orang-orang menjadi lupa peristiwa sebelumnya. 

Masih ingat tragedi Kanjuruhan? Ya, tragedi sepakbola nomor dua paling mengerikan di dunia. 135 nyawa melayang. Bagaimana kelanjutan kasusnya? Sepi. Publik sepakbola yang dulu teriak-teriak, kini diam. Suporter yang harusnya punya kekuatan, kini seperti bebek. Tak ada daya. Mereka kini kembali ke tribun dengan beberapa bentrokan lagi. 

Saya kira peristiwa MK ini kelak akan bernasib sama. Setidaknya tidak akan membesar. Sama seperti saat Ganjar menolak Israel di Piala Dunia U20. Masyarakat sepakbola marah. Atas statemen tersebut, saat itu, suara Ganjar tergerus. Tapi, kini suaranya menguat kembali.

Jadi, kehebohan ini hanyalah riak-riak sesaat. Ombak-ombak kecil yang segera terhempas. Kita tunggu ombak apa lagi yang akan menghempaskan ombak Mahkamah Konstitusi ini. 

Lenteng, 25 Oktober 2023

Bagikan:

Komentar

Tinggalkan Komentar