Suatu kali, saya iseng-iseng bertanya ke Google Bard (sekarang Gemini), "Bagaimana caranya agar blogger tetap bisa survive setelah adanya mesin AI?"Pertanyaan tersebut muncul sebagai respons atas berkembangnya kecerdasan artifisial yang bisa memproduksi beragam tulisan, baik fiksi maupun non-fiksi. Efeknya, orang tidak lagi datang ke mesin pencarian Google, yang bisa mengarahkan mereka masuk ke blog, melainkan langsung ke Bard atau ChatGPT. Otomatis blog menjadi sepi pengunjung dan kehilangan pendapatan.
Menanggapi pertanyaan di atas, Bard tidak menyangkal bahwa mesin AI ini mengambil banyak peran yang sebelumnya dimainkan oleh blogger. Namun, ia menyarankan satu hal yang mungkin tidak akan pernah bisa dilakukan oleh mesin seperti dirinya, yaitu tulislah pengalaman-pengalaman unik yang terjadi pada dirimu dengan ciri khasmu.
Bagaimanapun, mesin adalah benda mati. Dia tidak punya preferensi. Tidak punya perasaan. Tidak punya lingkungan. Tidak punya teman. Tidak punya kekasih. Tidak mengenal cinta dan amarah, dan tidak pernah patah hati. Karena itu, ia tidak punya kisahnya sendiri.
Kalaupun ia bisa menulis sebuah kisah "pribadi", tentu saja hasilnya adalah fiksi.
Itulah saran dari Bard. Masuk akal. Tapi, pertanyaan selanjutnya, apakah cerita-cerita seperti itu akan mendatangkan banyak pengunjung? Jawabannya, susah! Cerita-cerita pribadi, sebagus apa pun itu, akan sulit menghuni halaman depan mesin pencarian Google karena judul tulisan yang muncul umumnya berdasarkan kata kunci yang banyak dicari orang. Sementara, judul-judul tulisan tentang cerita pribadi kebanyakan tidak masuk dalam hitungan itu.
Judul semacam "Cara Budidaya Lele Dumbo" pasti lebih disukai Google ketimbang "Mungkin Dia Mengira Saya Lulusan Universitas di Pluto".
Lalu, dari mana kita bisa membangun basis pembaca? Satu-satunya cara adalah dengan mengenalkan tulisan-tulisan kita ke calon pembaca. Bagikan link tulisan ke media sosial dan rajin-rajin membaca dan berkomentar di blog orang lain.
Jika dengan cara begitu masih tidak banyak yang membaca, berarti tulisan kita memang jelek. Tidak menarik dan hanya buang-buang waktu.
Lalu, apa yang harus kita lakukan? Dagang cilok saja atau ikuti prinsip saya: ngeblog bukan buat menarik pembaca, tapi melatih kita merawat pikiran! Sesimpel dan sepasrah itu. Ngek!
Lenteng, 21 Februari 2024
Komentar
Tinggalkan Komentar