
Dalam sebuah potongan video, Gus Baha pernah dawuh begini:
"Manusia itu makhluk yang paling nggak jelas. Sekarang soleh, suatu saat bisa saja tidak soleh. Yang sedang ndak soleh, suatu saat soleh. Sesuatu yang mungkin berubah, kok, kamu fanatiki. Nalarnya gimana? Kita tahu dulu Wahsyi itu pembunuh Hamzah, akhirnya mati mukmin. Padahal orang yang sangat dibenci Rasulullah karena membunuh Sayyidina Hamzah. Tsa'labah yang tukang i'tikaf di masjid akhirnya su'ul khatimah. Kita nggak pernah tahu. Kalau nggak pernah tahu, ya, nggak usah terlalu fanatik."
Nasihat tersebut menjadi renungan yang cukup penting bagi kita, terutama di momen akhir menjelang pemilihan Presiden tahun ini. Ia menjadi katup pembuka pikiran saat orang-orang saling berhadap-hadapan untuk membela capresnya masing-masing secara membabi buta.
Dalam beberapa bulan terakhir, perang opini di media sosial berlangsung setiap hari, silih berganti dari satu topik ke topik yang lain, tidak ada habisnya. Padahal yang dipertengkarkan kebanyakan hanyalah soal sepele. Soal gemoy, slepet, poster, singkatan SIEGE, greenflation, dan sebagainya. Hal-hal yang substansial seringkali malah terlewati.
Jika seorang capres atau cawapres membuat blunder, ramai-ramai para pendukungnya membuat alasan-alasan untuk membenarkan atau minimal menyamarkan kesalahan tersebut. Sementara, kubu lain sumringah karena menemukan bahan serangan baru untuk calon yang blunder tersebut. Biasanya bahan-bahan blunder banyak ditemukan saat debat ataupun ketika melayani pertanyaan wartawan. Karena itu, banyak capres ataupun cawapres yang irit bicara karena takut dibuat bahan olok-olokan.
Menyaksikan perang komentar tersebut, lalu mengaitkannya dengan dawuh Gus Baha di atas, kita mungkin akan bertanya-tanya, kenapa orang bisa sefanatik itu? Kenapa seakan-akan pilihannya adalah yang paling pas untuk masa depan Indonesia?
Padahal, bisa jadi Anies-Muhaimin, yang dipersepsikan oleh pendukungnya sebagai calon pemimpin yang cerdas dan bersih dari korupsi dan bukan petugas partai, saat menjadi pemimpin malah justru dikendalikan oleh partai penyokongnya dan tidak bisa berbuat banyak. Akhirnya, kecerdasannya cuma lipstik belaka.
Atau, bisa jadi Prabowo-Gibran, yang oleh pendukungnya disebut-sebut sebagai pemimpin yang tegas dan mewakili milenial, ketika jadi pemimpin malah justru tunduk pada oligarki dan para taipan, dan mengabaikan kaum milenial yang digembar-gemborkan saat kampanye.
Atau juga, bisa jadi Ganjar-Mahfud, yang dipersepsikan oleh pendukungnya sebagai calon pemimpin yang mengayomi, transparan, dan menjunjung tinggi hukum, ketika jadi pemimpin justru malah melanggar hukum, koruptif, dan tidak transparan.
Probabilitas tersebut sangat mungkin terjadi karena, seperti dawuh Gus Baha, manusia itu kadang berubah-ubah. Hari ini baik, besok bisa jadi buruk.
Saya beri contoh ilustrasi.
Sebagian pendukung fanatik Jokowi pada Pilpres 2019, mungkin tidak mengira bahwa Jokowi pada akhirnya, setelah menjadi presiden, akan membuat keputusan-keputusan hukum yang kontroversial, seperti pengesahan UU Ciptaker, revisi UU KPK, UU Minerba, dan UU MK.
Mereka juga mungkin tidak pernah berpikir Jokowi akan punya ide untuk berkuasa selama tiga periode atau perpanjangan masa jabatan, juga terlibat dalam memenangkan salah satu paslon sebagaimana kita saksikan belakangan ini.
Setelah semua itu terjadi, apa yang mereka rasakan? Pasti kecewa. Bahkan beberapa di antara mereka kini malah berbalik mengkritik keras Jokowi.
Jadi, Jokowi adalah manusia. Wajar saja jika ia berubah. Yang tidak wajar adalah kita yang fanatik terhadapnya.
Lenteng, 11 Februari 2024 (tiga hari sebelum pencoblosan)
Komentar
Tinggalkan Komentar