![]() |
| sumber gambar: haibunda.com |
"Kalau ketemu penjaja es, lari. Itu bighalan," kata Ibu suatu ketika.
Saat itu saya masih duduk di kelas awal MI (Madrasah Ibtidaiyah). Kata "bighalan" begitu lekat, membuat bulu kuduk berdiri. Konon, menurut cerita Ibu, mereka sebenarnya sedang berpura-pura berjualan es keliling. Aslinya sedang mengincar kepala calon pembelinya. Kalau ada yang mendekat hendak membeli, pisau yang biasanya digunakan memotong es akan digunakan untuk memotong kepala korbannya.
"Hanya anak-anak yang mereka incar. Orang dewasa tidak," kata Ibu.
Mendengar cerita itu, saya takut bukan main. Tiap mendengar bunyi "niiinuuut niiinuuut" di kejauhan, saya langsung meringkuk ke dalam kamar. Baru keluar setelah bunyi itu menjauh dan perlahan menghilang.
Di sekolah, saya bertanya kepada teman-teman, apakah mereka mendengar cerita yang sama. Rupanya cerita mereka lebih lengkap dan sumbernya sama: ibu mereka masing-masing. Salah satu dari mereka bilang bahwa kepala-kepala tersebut akan dijadikan tumbal untuk pembangunan jembatan Pakamban, sebuah jembatan jauh di selatan rumahku. Kebetulan waktu itu sedang diperbaiki.
Teman yang lain menambahkan, dua kotak es yang biasanya mereka pikul, salah satunya tidak berisi es, melainkan kepala anak-anak yang sudah menjadi korbannya. Kotak satunya berisi es untuk memikat calon korban.
"Itulah mengapa tukang es hanya membuka satu kotaknya saat ada yang membeli es," katanya penuh keyakinan.
Kami sekelas bercerita sambil diliputi rasa waswas. Dalam kepala saya, kalau sudah besar nanti, saya akan menghajar para tukang es itu sampai babak belur. Tak akan dikasih ampun. Saya akan belajar bela diri seperti di film-film yang saya tonton di tivi hitam putih milik tetangga. Orang-orang baik di film-film tersebut selalu menang. Dan saya pasti menang.
Namun, sampai saya punya anak dua sekarang, belum pernah sekalipun saya menghajar penjaja es keliling. Mungkin nanti kalau lagi gabut.
Lenteng, 22 Februari 2024
1 Komentar
Tinggalkan Komentar