![]() |
| Sumber gambar: cssmora.org |
"Kalau ingin mahir menulis, putuslah pacar kalian," katanya penuh wibawa.
Kami bertiga menyimak dengan takzim. Kami adalah prajurit yang sedang menerima wejangan dari raja, sebelum menerobos ke medan pertempuran. Ya, pertempuran sebagai penyair. Kami adalah calon penyair masa depan. Penerus Chairil Anwar. Pesaing Sapardi Djoko Damono.
"Ketika kalian sedang patah hati, akan banyak ide bermunculan. Kalian akan produktif menulis puisi," katanya melanjutkan.
Kami manggut-manggut. Kami sedang menerima kebenaran, kami tidak boleh menolaknya.
***
Lelaki itu adalah penyair di pondok saya. Dia rajin menulis puisi. Beberapa puisinya pernah dimuat di media nasional. Ia juga sudah mencetak sebuah buku waktu itu.
Saya selalu terkagum-kagum tiap membaca puisi-puisinya. Saya yakin setiap perempuan yang membacanya, pasti langsung jatuh cinta. Bahasanya sungguh romantis, mengelus-elus sanubari. Bisa dibayangkan berapa banyak perempuan yang siap dinikahinya sebab sebuah puisi! Dahsyat sekali, bukan?
Karena itu, tidak salah kalau kami bertiga selalu berkunjung kepadanya. Kami juga ingin dicintai oleh perempuan-perempuan pembaca puisi kami!
Tiap kami datang, ia kerap membacakan puisi-puisi terbarunya. Uniknya, ia selalu hafal puisi-puisi tersebut. Kami yakin dia adalah penyair sungguhan. Sebab tidak ada penyair di lingkungan kami yang hafalannya terhadap puisi sekuat dia. Dan, satu lagi, dia jarang mandi.
***
Sepulang dari pertemuan tersebut, saya tercenung sepanjang jalan. Perkataan penyair kami itu benar adanya, bahwa kita harus sakit hati biar bisa produktif menulis. Di dalam kesakitan-kesakitan, ada benih-benih ide yang jika diolah dengan baik akan melahirkan puisi-puisi yang brilian. Kita curahkan semuanya. Kalau kita produktif, skill akan terasah dan hasil tulisan kita akan jauh lebih bagus.
Tapi, saat sedang khusyuk memikirkannya, tiba-tiba saya sadar, saya tidak punya pacar.
Bertahun-tahun setelah itu, tepatnya saat memasuki jenjang kuliah, saya tidak lagi aktif menulis puisi. Saya lebih suka menulis esai dan sesekali prosa. Cita-cita menjadi penyair pun lenyap begitu saja.
Kini, setelah belasan tahun berlalu, di antara kami bertiga, hanya satu orang yang terlihat masih aktif di dunia sastra dan kebudayaan. Satunya menjadi aktivis dan mengelola pendidikan di kampungnya dan saya sendiri masih berkutat dengan asam lambung.
Sekarang saya menjadi sadar mengapa pada akhirnya saya tidak jadi penyair. Tentu saja jawabannya adalah karena saya tidak punya pacar.
Jaddung, 4 Maret 2024
Komentar
Tinggalkan Komentar