Heboh-heboh soal "Peringatan Darurat" beberapa waktu lalu, saya mendapat istilah baru di X, yaitu "Kandang Monyet". Frasa tersebut merujuk ke sebuah aplikasi yang sangat populer di Indonesia, yaitu TikTok.
Duduk perkaranya begini.
Saat terjadi demo besar-besaran di beberapa daerah di Indonesia, sejumlah akun membuat postingan aksi tersebut di TikTok. Mereka membagikan suasana demo serta berbagai tuntutan dan protes mereka kepada DPR. Mereka sedang mengingatkan orang-orang bahwa Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Mereka juga mengkritik Jokowi karena dianggap mengelabui demokrasi, bersekongkol dengan koalisi partai untuk meloloskan anaknya menjadi wakil gubernur lewat utak-atik RUU Pilkada.
Ramainya postingan demo tersebut dibalas oleh akun-akun yang diduga buzzer dengan semboyan "Indonesia baik-baik saja". Mereka membuat narasi tandingan. Berusaha menangkis besarnya gelombang negatif terhadap Jokowi dan DPR. Berbagai isu diangkat: RUU Perampasan Aset, Jokowi membangun banyak fasilitas publik, demonstran digerakkan oleh PDI Perjuangan, sakit hati karena Anies kalah Pilpres, Anak Abah, dan masih banyak lagi.
Bahkan, artis papan atas seperti Reza Rahadian mereka sebut berdemo karena sepi job. Wow, Reza sepi job? Sepertinya berlebihan. Tapi, demikianlah kata warga TikTok.
Joko Anwar pun begitu. Dia disebut sebagai sutradara yang sepi job dan Anak Abah. Anak Abah adalah sebutan untuk pendukung Anies Baswedan pada Pilpres kemarin. Joko berdemo karena sakit hati Anies kalah, kata mereka.
Banyaknya akun yang kontra terhadap demo tersebut, baik yang benar-benar buzzer, tertular buzzer, atau memang pendukung militan pemerintah, membuat banyak netizen X geram. Soalnya, akun-akun di TikTok itu berisiknya minta ampun. Mereka tekun berkomentar template: "Indonesia baik-baik saja", "Jokowi is the best", "Anak Abah", dan lain-lain. Lebih sering malah tidak ada hubungannya dengan isi video yang dikomentari. Nyaris tidak ada argumen yang kuat untuk membendung alasan para pendemo.
Banyak juga kreator konten TikTok yang berusaha memberikan edukasi tentang apa sebenarnya yang dipersoalkan oleh pendemo, namun lagi-lagi komentar yang muncul selalu hal-hal di atas tadi. Mereka terlihat sulit untuk diberi pemahaman. Padahal sudah banyak konten yang dibuat semudah mungkin untuk dipahami.
Kebebalan itulah yang mungkin membuat beberapa netizen X menjuluki TikTok sebagai "Kandang Monyet". Sulitnya membuat netizen di sana mengerti pokok persoalan membuat istilah itu muncul. Bisa jadi sebetulnya mereka paham, cuma terlalu cinta pemerintah atau nominal tawarannya per postingan/komentar kelewat besar. Entahlah.
Di luar itu, saya sedang memikirkan bagaimana perasaan para monyet jika mendengar istilah tersebut. Saya curiga mereka bakal tersinggung. Namun, semoga kecurigaan saya tidak benar.
Lenteng, 5 September 2024
Komentar
Tinggalkan Komentar