Di lini masa media sosial, terutama X, saya sering menjumpai cuitan tentang bobroknya pengelolaan sepak bola Indonesia, terutama Liga 1. Mereka menyebut liga tersebut penuh dengan pengaturan, kongkalikong, dan permainan pihak-pihak yang berkepentingan. Istilah yang sering digunakan adalah liga dagelan atau liga settingan.
Tentu saja, cuitan-cuitan tersebut tidak berdiri sendiri. Sudah banyak media besar yang mengupas kekusutan manajemen sepak bola Indonesia. Mata Najwa bahkan beberapa kali secara khusus membahas masalah ini.
Itu satu sisi.
Di sisi lain, kita dihadapkan dengan berita-berita tentang militansi fans sepak bola Indonesia yang kadang berlebihan, bahkan terlihat konyol. Bentrok antarsuporter, pelemparan terhadap bus pemain lawan, suporter masuk lapangan dan merusak fasilitas, atau sekadar perang komentar di media sosial -- itu semua adalah pemandangan yang mudah kita jumpai.
Bagi saya yang awam soal sepak bola, timbul pertanyaan mendasar: jika mereka sudah tahu bahwa liga kita bisa diatur, mengapa masih membela secara membabi buta? Apa yang sebenarnya mereka bela? Kenapa mereka rela mempertaruhkan nyawa hanya demi suatu pertandingan yang dikendalikan oleh segelintir orang?
Mungkin ada yang akan menjawab bahwa hal itu terjadi karena sepak bola Indonesia kerap membawa identitas lokal, sehingga fanatisme terhadap klub sangat kuat. Atau karena romantisme sejarah yang panjang, di mana klub yang dibela sekarang adalah klub yang sama sejak mereka SD.
Namun, bagi saya, alasan itu tetap terasa kurang masuk akal. Militansi terhadap sebuah pertandingan yang direkayasa itu seperti membela seorang caleg secara mati-matian, padahal setelah masuk parlemen, dia tak bisa berbuat banyak karena harus tunduk pada ketua partai. Jadi, apa gunanya membela secara membabi buta?
Lenteng, 27 Mei 2025
Komentar
Tinggalkan Komentar