Sebelum FB Pro menyerang, Facebook adalah media sosial yang intim. Teman-teman kita sebagian besar adalah teman-teman dalam kehidupan nyata. Percakapan pun kadang bersifat eksklusif, hanya di lingkup pertemanan tersebut yang tahu. Karena berteman secara nyata, komentar-komentar yang muncul umumnya nuansanya sama dengan percakapan saat mereka bertatap muka.
Namun, sejak Facebook menerapkan monetisasi, perlahan lanskap berubah. Orang dari antah berantah tiba-tiba menjadi pengikut kita. Bahkan, konon ada akun yang diserbu penduduk Prindapan. Tujuan mereka tentu menambah pengikut untuk mengajar target tertentu sebagai syarat monetisasi, tidak peduli apakah mereka paham konten kita atau tidak.
Tak hanya mengikuti, akun-akun dari luar sirkel pertemanan kita, juga ikut berkomentar terhadap apa yang kita posting. Dan perkara inilah yang, suatu ketika, membuat saya mengelus dada. Begini ceritanya:
Teman saya, M Kamil Akhyari, yang akunnya sudah monetisasi, suatu ketika mengunggah sebuah screenshot judul berita. Isianya memang agak sensitif dan click bait, bisa memancing orang untuk ribut. Tentu, kalau mereka sumbu pendek dan tidak tahu teknologi. Saya yang penasaran dengan judul tersebut akhirnya mencoba mencari di Google. Berita itu benar ada dan saya rasa tak ada masalah. Namun, Ya, Tuhan, komentar pada postingan tersebut sungguh ngeri sekali. Sumpah serapah di mana-mana. Macam orang mau menggebuk maling saja. Sudah pasti mereka bukan teman Ariek di dunia nyata.
Saya lalu membayangkan bagaimana seandainya komentar-komentar itu disampaikan secara tatap muka di hadapan teman saya yang baik hati, rajin menabung, dan kaya itu. Rasanya aneh sekali.
Tapi, begitulah realitas virtual kita, dan saya rasa teman saya itu sudah tahu risikonya. Untuk mendapatkan tumpukan dollar, kita harus kebal. Pepatah China mengatakan: 不入虎穴,焉得虎子
Lenteng, 3 Agustus 2025
Komentar
Tinggalkan Komentar