
Bagi saya, menjadi bagian dari tim majalah siswa ini adalah sebuah kebanggaan. Di sana, saya berjumpa dengan orang-orang yang punya minat dan tujuan yang sama, yaitu mengembangkan literasi siswa. Saya dipertemukan dengan Pak Asy’ari Khatib dan Ach. Salman Syam, dua kolega yang benar-benar sangat menyenangkan untuk menjadi teman bekerja. Mereka bekerja dengan sungguh-sungguh dan, ini yang terpenting, riang gembira.
Di majalah Inspirasi, kami bertiga menjabat Redaktur Ahli. Saya tidak tahu pasti apa maksudnya. Mungkin ahli nujum atau ahli reparasi karburator. Tapi, di antara kami tidak ada yang punya riwayat menjadi dukun atau montir. Eh, sebentar, kalau dilihat-lihat, sepertinya Pak Asy’ari cocok juga jadi dukun.
Salman adalah adik kelas saya di bangku kuliah. Sama-sama pernah aktif di majalah kampus, walaupun beda angkatan. Dia sangat telaten dalam mengerjakan sesuatu. Di hadapan dia, saya kerap bertabiat sebagai layaknya senior pada umumnya, yaitu suka menyuruh-nyuruh. Kadang saya melimpahinya tugas-tugas yang menuntut kesabaran tinggi karena kesabaran saya tipisnya mengalahkan tisu. Untungnya dia mau. Kalau tidak, saya sepak dengkulnya.
Pak Asy’ari adalah sosok yang sulit saya terka profesi utamanya. Beliau menulis buku religi dan sastra, juga menerjemahkan kitab. Di kelas, beliau mengajar kitab dan Bahasa Indonesia. Namun, di banyak kegiatan, beliau selalu diundang untuk acara sastra. Apakah beliau seorang sastrawan yang menulis tema religi? Mungkin. Tapi, bisa jadi beliau sedang menyembunyikan sesuatu. Saya menduga, sebetulnya beliau adalah seorang pelawak.
Lawakan-lawakan khas Pak Asy’ari selalu muncul tiap kali rapat majalah Inspirasi. Suasana yang sumuk siang hari sehabis mengajar menjadi cair. Siapa sasaran lawakan beliau? Sudah bisa ditebak, kalau tidak saya, ya Salman. Kalau tidak Salman, ya saya. Begitu terus sampai Madura kembali menjadi negara tersendiri. Eh, enggak juga, sih, sebenarnya. Ada banyak kru yang kena juga. Tapi, yang jelas beliau sendiri tidak.
Suasana keakraban menjadi denyut nadi majalah Inspirasi saat itu. Setidaknya itulah yang saya rasakan. Saya tidak tahu bagaimana perasaan dua kolega saya tersebut, mungkin muak, mungkin muak banget. Entahlah.
Bagaimana dengan siswa yang menjadi kru? Saya tidak tahu bagaimana tanggapan mereka karena belum pernah bertanya. Bisa jadi kenangan pahit yang melekat, mengingat terkadang saya menjelma makhluk otoriter. Kalimat semacam “Coba ini diperbaiki lagi ya…”, “Ini desainnya masih kurang, tolong direvisi…”, “Ini tidak ada naskah lain? Kalau ada, ganti saja”, “Sepertinya font dan gambarnya masih kurang cocok, cari yang lain lagi”, dan semacamnya adalah kalimat-kalimat lembut yang bagi mereka sebenarnya menjengkelkan. Apalagi, ketika mengedit naskah, saya lebih sering menggunakan metode corat-coret alias tidak langsung diperbaiki sendiri di komputer. “Kan ngedit di komputer bisa lebih cepat, Pak?” Mungkin dalam hati mereka bertanya seperti itu. Saya sudah siapkan jawabannya, “Saya orangnya memang suka repot kok”.
Sejujurnya, walaupun punya ikatan yang kuat, saya tidaklah intens dengan majalah ini. Sebagian besar waktu saya tersedot untuk mengurus administrasi lembaga dan mengajar. Belum lagi kalau sudah mendekati akhir tahun ajaran, di mana ada tugas paper siswa yang saya menjadi bagian di dalamnya. Praktis, majalah ini menjadi tersisihkan. Namun, karena persentuhan saya dengan dunia literasi yang bisa dilacak jauh saat masih mondok, rasa-rasanya tidak berlebihan jika saya merasa punya ikatan kuat dengan majalah ini.
Lenteng, 26 Agustus 2025
Komentar
Tinggalkan Komentar